KASUS menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, dalam dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang, lalu diikuti pelimpahan penanganan perkara kepada Kejaksaan Agung, segera memantik perdebatan publik mengenai independensi dan akuntabilitas penegakan hukum.
Perhatian masyarakat tidak hanya tertuju pada substansi dugaan tindak pidananya, melainkan juga pada proses yang mengikutinya.
Di tengah sorotan tersebut, pertanyaan mengenai kekuasaan kembali mengemuka, siapa sesungguhnya yang mengawasi para pengawas?
Namun persoalan yang muncul sesungguhnya lebih dalam daripada sekadar pengawasan.
Yang sedang dipertaruhkan adalah apa yang dapat disebut sebagai politik kelayakan percaya.
Siapa yang layak dipercaya untuk menyelidiki, menuntut, dan menegakkan hukum ketika dugaan pelanggaran justru menyentuh mereka yang selama ini berada di jantung pemberantasan korupsi?
Ruha Benjamin dalam Viral Justice (2022) menawarkan pisau analisis yang menarik.
Menurut Benjamin, problem utama dalam krisis institusional bukan selalu terletak pada masyarakat yang kehilangan kepercayaan.
Persoalannya justru sering berada pada institusi kehilangan sifat layak dipercaya (trustworthiness).
Karena itu, pertanyaan seharusnya diajukan bukan mengapa publik tidak percaya, melainkan mengapa institusi gagal membangun alasan untuk dipercaya.
Ketidakpercayaan Rasional
Dalam diskursus hukum, ketidakpercayaan publik kerap diperlakukan sebagai persoalan persepsi yang harus diperbaiki melalui komunikasi dan pencitraan.
Padahal, kepercayaan merupakan hasil dari konsistensi, integritas, dan akuntabilitas yang dibangun dalam waktu panjang.
Karena itu, tidak semua ketidakpercayaan bersifat destruktif. Dalam situasi tertentu, ketidakpercayaan justru merupakan respons yang rasional.
Masyarakat mengingat kasus-kasus yang tidak tuntas, konflik antarpenegak hukum, serta berbagai skandal yang pernah mencederai integritas institusi.
Pengalaman kolektif semacam itu membentuk deserved distrust, yakni ketidakpercayaan yang memiliki dasar pengalaman yang nyata (Benjamin, 2022).
Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.