Negosiator Ransomware Berkhianat, Diam-diam Bantu Hacker Naikkan Tebusan

Negosiator Ransomware Berkhianat, Diam-diam Bantu Hacker Naikkan Tebusan

KOMPAS.com - Seorang negosiator ransomware di Amerika Serikat dijatuhi hukuman 70 bulan atau sekitar 5 tahun 10 bulan penjara.

Ia terbukti bersekongkol dengan kelompok hacker BlackCat (ALPHV) untuk memeras para korban yang seharusnya ia bantu.

Pria bernama Angelo Martino (41) itu sebelumnya bekerja sebagai negosiator ransomware di perusahaan siber DigitalMint. Tugasnya adalah bernegosiasi dengan hacker pengirim ransomware agar klien perusahaan dapat membayar uang tebusan dalam jumlah lebih rendah.

Namun, menurut Departemen Kehakiman AS, Martino justru membocorkan informasi rahasia milik korban kepada kelompok BlackCat agar para peretas dapat menaikkan nilai uang tebusan.

"Martino memberikan informasi negosiasi rahasia kepada penjahat siber untuk memaksimalkan uang tebusan dengan imbalan," demikian isi memorandum hukuman pemerintah AS.

Akibat aksinya, lima korban yang ditangani Martino membayar lebih dari 75 juta dollar AS (sekitar Rp 1,3 triliun) kepada afiliasi BlackCat. 

Martino mengaku bersalah atas dakwaan pemerasan dan sempat meminta hukuman diringankan menjadi 24 bulan penjara. Ia beralasan, telah membantu penyelidikan yang berujung pada penangkapan dua terdakwa lain dalam kasus yang sama.

Namun, pengadilan tetap menjatuhkan hukuman 70 bulan penjara, sesuai rekomendasi pemerintah AS.

Terima bayaran dalam kripto

Dalam dokumen pengadilan disebutkan, Martino menerima jutaan dollar dalam bentuk mata uang kripto sebagai imbalan atas kerja samanya dengan kelompok ransomware.

Sebagian dana tersebut digunakan untuk membeli dua rumah di Florida, sebuah kapal, dan beberapa kendaraan.

FBI kemudian menyita aset kripto yang masih tersisa. Selain hukuman penjara, Martino juga diwajibkan menyerahkan aset miliknya dan membayar 10 persen dari penghasilannya setelah bebas sebagai bentuk ganti rugi kepada para korban.

Martino bekerja di DigitalMint sejak November 2022 hingga April 2025. Dalam pekerjaannya, ia memiliki akses terhadap berbagai informasi sensitif, termasuk nilai tuntutan tebusan, cakupan asuransi siber milik korban, hingga strategi negosiasi perusahaan.

Dalam sebuah pernyataan, pihak DigitalMint menyatakan tidak mengetahui aktivitas kriminal yang dilakukan Martino selama bekerja di perusahaan tersebut.

Perusahaan mengatakan Martino sengaja menyembunyikan aksinya dengan menggunakan saluran komunikasi yang tidak sah.

Setelah menerima informasi dari Departemen Kehakiman AS, DigitalMint langsung memecat seluruh karyawan yang terlibat dan bekerja sama dengan FBI selama proses penyelidikan.