Merawat Harapan dari Kebun Pepaya Kalina, Langkah Desa Serut Menguatkan Ekonomi Desa

Merawat Harapan dari Kebun Pepaya Kalina, Langkah Desa Serut Menguatkan Ekonomi Desa

KEBUMEN, KOMPAS.com – Hamparan pepaya tumbuh rapi dan hijau di atas lahan seluas satu hektare di kawasan Desa Serut, Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah (Jateng).

Dari kejauhan, deretan pohon dengan buah-buah berwarna hijau kekuningan tampak menggantung sangat lebat di setiap batangnya. Hampir setiap pekan, kawasan kebun produktif itu kini selalu dipenuhi oleh hiruk-pikuk aktivitas panen.

Para pekerja tampak sibuk memetik buah yang telah matang pohon, menyeleksinya secara jeli berdasarkan ukuran standar, lalu menyusunnya dengan rapi ke dalam keranjang khusus sebelum akhirnya diangkut menggunakan armada truk menuju luar daerah.

Di balik rutinitas saban minggu itu, tersimpan cerita inspiratif tentang bagaimana sebuah desa berupaya keras merawat harapan dengan membangun ketahanan pangan mandiri, sekaligus menggerakkan roda perekonomian lokal melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Perkebunan buah komersial tersebut merupakan milik BUMDes Murih Agawe Santoso, yang sengaja mengembangkan budidaya Pepaya Kalifornia Indonesia (Kalina) sebagai komoditas pertanian unggulan desa. Program ini lahir murni dari hasil musyawarah desa dan menjadi bagian dari pelaksanaan program ketahanan pangan yang didanai melalui Anggaran Tahun 2025.

Kepala Desa Serut, Taufiq Mundarto, mengatakan bahwa pemilihan komoditas Pepaya Kalina ini bukan dilakukan tanpa alasan yang matang. Selain memiliki masa produktif pohon yang tergolong panjang, tanaman hortikultura ini juga dinilai memiliki prospek pasar yang sangat menjanjikan.

"Dalam program ketahanan pangan, sesuai hasil musyawarah desa hingga musyawarah desa khusus, Desa Serut melaksanakan budidaya tanaman Pepaya Kalifornia Indonesia (Kalina) untuk Tahun Anggaran 2025," ujar Taufiq saat ditemui langsung di lokasi kebun pada Minggu (19/7/2026).

Bibit pepaya unggul tersebut mulai ditanam serentak sejak Oktober 2025 lalu. Setelah melewati masa pertumbuhan vegetatif yang baik, tanaman hortikultura tersebut kini telah memasuki periode produksi buah yang stabil. Bahkan hingga pertengahan Juli 2026, kebun pepaya itu tercatat telah sukses menjalani panen sebanyak 16 kali.

"Alhamdulillah panen sudah bisa dirasakan manfaatnya, sudah belasan kali panen dan semoga hasilnya ke depan juga terus bertambah," katanya penuh syukur.

Setiap pekan, hasil panen terus mengalir tanpa putus. Jumlah produksinya diakui memang tidak selalu sama, karena sangat bergantung pada kondisi cuaca tanaman serta tingkat kematangan buah di batang. Namun, hasil riil yang diperoleh sejauh ini tergolong sangat menggembirakan.

"Sampai saat ini kami sudah melakukan panen sebanyak 16 kali. Hasilnya memang fluktuatif, tertinggi mencapai sekitar 1,5 ton dan terendah sekitar delapan kuintal," katanya merinci data produktivitas lahan.

Angka produksi tersebut membuktikan bahwa lahan seluas satu hektare mampu menghasilkan pasokan buah segar secara berkelanjutan untuk pasar. Berbeda dengan tanaman pangan musiman yang hanya bisa dipanen sekali dalam satu musim tanam, Pepaya Kalina dapat terus menghasilkan buah segar selama pohon berada dalam kondisi prima dan produktif.

Keunggulan bernilai ekonomi inilah yang menjadi salah satu alasan mendasar Pemerintah Desa Serut memilih komoditas tersebut sebagai investasi jangka panjang bagi unit usaha BUMDes. Biasanya, pepaya jenis unggul ini bisa terus dipanen secara berkala hingga kurun waktu 3-4 tahun ke depan.

Menurut Taufiq, usaha budidaya Pepaya Kalina hingga kini masih memberikan prospek keuntungan yang sangat baik bagi kas desa. Selain produktivitas tanaman yang terus berjalan stabil, harga jual pepaya di tingkat pasar bebas juga relatif stabil sehingga memberikan margin keuntungan yang cukup menjanjikan.

"Alhamdulillah, usaha ini cukup prospektif. Saat ini harga pepaya juga stabil dan sangat baik, terutama karena produksi di wilayah Urut Sewu sedang menurun," ungkapnya membeberkan celah pasar.