Wim Kieft membela Lionel Messi setelah pertandingan semifinal antara Inggris dan Argentina (1-2). Mantan penyerang ini tidak begitu memahami penolakan terhadap kemungkinan gelar juara dunia kedua bagi bintang Argentina tersebut. Dalam kolomnya di De Telegraaf, ia menjelaskan mengapa ia justru dengan sepenuh hati berharap Messi meraih penghargaan tertinggi itu.
Dalam laga melawan Inggris, menurut Kieft, tim Argentina menunjukkan seberapa baik mereka bisa bermain sepak bola dan seberapa intens mereka bisa bertanding. „Sepertinya mereka meremehkan kualitas mereka sendiri,” tulisnya. “Minggu nanti akan terungkap apakah mereka juga bisa berhasil melawan Spanyol.”
Pria asal Amsterdam ini melihat bahwa gaya permainan Argentina sangat bergantung pada Messi. “Di mana pun posisinya di lapangan, ia harus ditempatkan agar bisa membuat perbedaan dari sana. Semua pemain di tim Argentina siap mengorbankan diri demi dirinya.” Selain itu, Kieft mencatat bahwa Lautaro Martínez dan Julián Álvarez menerima peran mereka tanpa mengeluh.
Mantan pesepakbola ini bertanya-tanya apakah Argentina akan menerapkan strategi yang sama saat menghadapi Spanyol. Tim Spanyol berhasil mencapai final berkat gaya tiki-taka khas mereka. “Atau apakah Argentina akan mengandalkan kualitas permainan yang sebenarnya, yang jauh lebih banyak daripada yang sering diduga? Hal ini membuat final Piala Dunia ini semakin menarik sejak awal.”
“Di sekitar Anda, sering terdengar bahwa Messi tidak akan dianugerahi gelar Piala Dunia kedua, padahal empat tahun lalu hampir semua orang mendukungnya,” kata Kieft. Mungkin kontroversi seputar pemain Argentina itu turut berperan. Ia menyoroti kartu merah yang tidak diberikan dalam laga melawan Aljazair (3-0) serta perilaku Messi terhadap wasit João Pinheiro saat pertandingan melawan Swiss (3-1).
“Atau semua teori konspirasi yang beredar bahwa Argentina dan Messi dibantu oleh FIFA untuk mencapai final,” tambah pria berusia 63 tahun itu. “Bersyukurlah bahwa ada Lionel Messi. Bahwa sebagai pemain, ia masih mampu membuat begitu banyak orang bahagia dan rekan-rekan setimnya rela mengorbankan diri demi dirinya, karena ia masih memiliki momen-momen gemilang dan dengan kualitasnya dapat membuat perbedaan.”
Kieft mengagumi pemenang Ballon d’Or delapan kali ini karena di usia 39 tahun, ia masih mampu menunjukkan kualitasnya di panggung tertinggi. “Memberikan segalanya sekali lagi untuk membuat perbedaan dan membantu Argentina mencapai final. Untuk kemudian, justru melawan negara kedua yang ia anggap sebagai tanah airnya, Spanyol, memenangkan gelar juara dunia keduanya.”