SOLO, KOMPAS.com - Dampak fenomena El Nino mulai dirasakan di sejumlah daerah di Solo Raya.
Kabupaten Boyolali, Sukoharjo, dan Sragen kini menghadapi ancaman krisis air bersih akibat musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang.
Di Boyolali, tujuh desa telah mengalami kekeringan dan mulai menerima bantuan air bersih.
Sementara itu, Sukoharjo memprediksi jumlah wilayah terdampak akan terus bertambah hingga mencapai puncak pada Agustus-September 2026.
Adapun Sragen menetapkan 34 desa berstatus siaga darurat bencana kekeringan.
Sejumlah pemerintah daerah pun mulai menyiapkan berbagai langkah antisipasi, mulai dari distribusi air bersih, penyediaan armada tangki, hingga menjaga pasokan air bagi pelanggan.
Boyolali Mulai Salurkan Air Bersih ke Tujuh Desa
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali, Ari Wahyu Prabowo, mengatakan bantuan air bersih telah disalurkan secara bertahap ke tujuh desa yang terdampak kekeringan.
Ketujuh desa tersebut meliputi Desa Guwo dan Desa Ketoyan di Kecamatan Wonosegoro, Desa Bengle dan Desa Bercak di Kecamatan Wonosamudro, Desa Samiran di Kecamatan Selo, Desa Sangup di Kecamatan Tamansari, serta Desa Kembangkuning di Kecamatan Cepogo.
Menurut Ari, bantuan air bersih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, seperti kebutuhan rumah tangga, mandi, cuci, kakus (MCK), hingga kebutuhan peternakan.
"Penyaluran dilakukan secara bertahap ke desa-desa yang terdampak," ujar Ari, dikutip dari Tribun Solo, Rabu (22/7/2026).
BPBD Boyolali juga akan terus memantau perkembangan kondisi di lapangan.
Apabila kekeringan semakin meluas, distribusi air bersih akan ditambah sesuai laporan pemerintah desa dan kebutuhan masyarakat.
Sukoharjo Prediksi Kekeringan Meluas
Di Kabupaten Sukoharjo, BPBD memperkirakan jumlah wilayah terdampak akan terus bertambah seiring memasuki puncak musim kemarau.
Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo, Ariyanto Mulyatmojo, mengatakan saat ini musim kemarau baru memasuki fase awal.
Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, dampak kekeringan biasanya mulai meluas pada Agustus dan mencapai puncaknya pada September.