Tewas dalam Posisi Duduk di Atas Perahu, Nelayan Sebatik Ditemukan di Perairan Perbatasan RI-Malaysia

Tewas dalam Posisi Duduk di Atas Perahu, Nelayan Sebatik Ditemukan di Perairan Perbatasan RI-Malaysia

NUNUKAN, KOMPAS.com – Seorang nelayan asal Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, ditemukan tewas di atas perahu kayunya yang terombang-ambing di perairan perbatasan Indonesia-Malaysia pada Selasa (14/7/2026) petang.

Sebelum ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa, nelayan paruh baya tersebut sempat dilaporkan hilang kontak saat melaut. Insiden ini memicu pencarian intensif dari Tim SAR gabungan yang terdiri dari prajurit Pos AL Sei Pancang Sebatik, Satgas Kopaska, serta personel Polairud.

Komandan Pos TNI AL Sei Pancang, Kapten Laut (S) Sugeng Tri Mulyanto, mengonfirmasi bahwa identitas nelayan tersebut bernama Asis (63), yang merupakan warga Jalan Bhayangkara, RT 009, Desa Sungai Nyamuk, Kecamatan Sebatik Timur.

"Korban ditemukan di perairan perbatasan Indonesia - Malaysia pada Posisi 04 10 38 U - 117 55 56 T, Selasa sore kemarin," ujar Sugeng melalui keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (16/7/2026).

Sugeng menuturkan bahwa laporan resmi mengenai hilangnya Asis pertama kali diterima oleh pihak Pos AL Sei Pancang dan Pos AL Sei Nyamuk Sebatik sekitar pukul 12.00 Wita.

Berdasarkan laporan pihak keluarga, Asis awalnya berangkat melaut seorang diri dengan mengendarai perahu kayu KM SKPT Sebatik. Perahu tersebut memiliki ciri fisik berwarna biru dengan lis putih dan digerakkan oleh mesin berkekuatan 15 PK.

Namun, sesaat setelah laporan kehilangan tersebut diterima petugas, operasi pencarian di sepanjang pantai tidak bisa langsung digulirkan. Faktor alam menjadi kendala utama lantaran kondisi air laut di dermaga sedang surut drastis.

"Saat laporan diterima, kondisi air laut sedang surut, sehingga SAR belum bisa dilaksanakan karena posisi speed boat ataupun perahu sedang kandas," katanya menjelaskan situasi di lapangan.

Demi menyiasati kendala teknis tersebut, pihak Pos AL segera melakukan koordinasi taktis dengan unsur armada militer yang sedang berpatroli di tengah laut.

"Info tersebut diteruskan ke KRI Terapang yang berada di laut untuk memonitor sekitaran perairan sebatik," kata Sugeng menambahkan.

Penemuan Jasad Korban di Atas Perahu

Ketika air laut mulai pasang sekitar pukul 16.30 Wita, tim gabungan yang melibatkan prajurit Pos AL Sei Pancang, Satgas Kopaska, Polairud, bersama dengan perwakilan masyarakat setempat langsung bergerak melakukan penyisiran ke tengah laut menggunakan kapal motor.

Setelah beberapa jam melakukan penyisiran di tengah ombak, Tim SAR akhirnya berhasil mendeteksi keberadaan sebuah perahu kayu dengan ciri-ciri yang identik seperti yang dilaporkan, tepat di koordinat perbatasan negara.

Saat didekati oleh petugas, perahu tersebut dalam kondisi mesin mati dan terombang-ambing ombak. Di atas kapal, petugas melihat Asis berada seorang diri dalam posisi duduk, namun sama sekali tidak memberikan respons saat dipanggil.

"Saat ditemukan, Asis sudah meninggal dunia dalam posisi duduk," jelas Sugeng.

Penyebab Kematian Belum Diketahui, Keluarga Tolak Visum

Petugas evakuasi kemudian dengan sigap mengamankan perahu kayu tersebut dan langsung membawa jasad korban kembali ke daratan untuk diserahkan ke rumah duka di Desa Sei Nyamuk.

Terkait penyebab pasti kematian korban di tengah laut, Sugeng menyatakan bahwa pihak berwenang tidak melakukan penyelidikan medis lebih lanjut atas permintaan pihak kerabat.

"Keluarga tidak mau ada visum dan mengikhlaskan. Kita tidak tahu korban meninggal karena apa, namun info dari keluarga, korban memiliki riwayat hipertensi," katanya memungkasi keterangan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang