Negara Eropa dengan Pajak Properti Paling Mahal dan Murah

Negara Eropa dengan Pajak Properti Paling Mahal dan Murah

ilustrasi Belgia, Eropa, perumahan, properti (pexels.com/Mats Van Lishout)
  • Belgia dan Denmark dikenal memiliki beban pajak properti tertinggi di Eropa, mencakup pajak pembelian, pendapatan sewa, hingga keuntungan penjualan yang bisa memangkas hasil investasi secara signifikan.
  • Siprus dan Malta menawarkan sistem pajak yang lebih ringan bagi pemilik properti, tanpa pajak tahunan dan dengan tarif rendah untuk pendapatan sewa maupun transaksi penjualan rumah.
  • Beberapa negara seperti Jerman, Estonia, Republik Ceko, dan Lithuania memberikan keringanan pajak tertentu sehingga penting memahami aturan tiap negara sebelum membeli properti di Eropa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Membeli rumah di Eropa mungkin terdengar seperti impian, baik untuk tempat tinggal maupun investasi. Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian, yaitu pajak properti yang harus dibayar sepanjang masa kepemilikan rumah. Bukan hanya saat membeli, kamu juga bisa dikenai pajak tahunan, pajak penghasilan dari sewa, hingga pajak ketika menjual properti.

Besaran pajak tersebut berbeda-beda di setiap negara sehingga dapat mempengaruhi keuntungan yang kamu peroleh. Karena itu, memahami aturan pajak sama pentingnya dengan membandingkan harga rumah sebelum memutuskan membeli properti di Eropa.

Table of Content

1. Belgia jadi negara dengan beban pajak properti paling besar

ilustrasi apartemen di Brussels, Belgia, Eropa
ilustrasi apartemen di Brussels, Belgia, Eropa (unsplash.com/Kenny)

Belgia dikenal sebagai salah satu negara dengan beban pajak properti tertinggi di Eropa. Mulai dari membeli rumah, memiliki properti, hingga menyewakannya, pemilik harus menghadapi berbagai jenis pajak yang nilainya gak sedikit. Hal inilah yang membuat biaya kepemilikan properti di Belgia jauh lebih mahal dibandingkan banyak negara Eropa lainnya.

Salah satu pajak terbesar adalah transfer tax atau pajak pembelian properti. Di beberapa wilayah, tarifnya mencapai 12,5 persen dari harga rumah. Sebagai gambaran, jika kamu membeli rumah seharga 500.000 euro, pajak yang harus dibayar bisa mencapai 62.500 euro atau sekitar Rp1,19 miliar (dengan asumsi kurs Rp19.000 per euro). Meski demikian, beberapa wilayah di Belgia memberikan potongan pajak bagi pembeli yang memenuhi persyaratan tertentu, terutama untuk rumah yang akan ditempati sendiri.

2. Denmark kenakan pajak tinggi untuk pendapatan sewa dan keuntungan penjualan

Negara Eropa dengan Pajak Properti Paling Mahal dan Murah
ilustrasi Copenhagen, Denmark (pexels.com/rao qingwei)

Kalau tujuanmu membeli properti untuk disewakan, Denmark menjadi salah satu negara yang perlu dipertimbangkan dengan matang. Untuk pendapatan sewa sekitar 1.500 euro per bulan atau kurang lebih Rp28,5 juta, tarif pajak yang dikenakan mencapai 42,11 persen. Angka tersebut termasuk yang paling tinggi di Eropa sehingga dapat memangkas keuntungan dari investasi properti.

Beban pajak juga terasa ketika properti dijual. Keuntungan dari penjualan rumah di Denmark dapat dikenai pajak hingga 52,07 persen setelah digabungkan dengan penghasilan pemilik. Misalnya, jika kamu memperoleh keuntungan 250 ribu euro atau sekitar Rp4,75 miliar, nilai pajaknya bisa mencapai sekitar 130.000 euro, setara kurang lebih Rp2,47 miliar. Artinya, keuntungan bersih yang tersisa jauh lebih kecil dibandingkan nilai awal yang diperoleh.

3. Siprus dan Malta jadi pilihan menarik karena pajaknya ringan

ilustrasi Cyprus atau Siprus
ilustrasi Cyprus atau Siprus (pexels.com/Ollie Craig)

Berbeda dengan Belgia dan Denmark, Siprus menawarkan sistem pajak yang jauh lebih ramah bagi pemilik properti. Negara ini gak mengenakan pajak properti tahunan sehingga kamu gak perlu mengeluarkan biaya rutin hanya karena memiliki rumah. Selain itu, pajak atas pendapatan sewa juga dimulai dari tarif nol persen untuk kategori pendapatan tertentu.

Malta juga termasuk negara dengan beban pajak yang relatif ringan. Negara ini gak menerapkan pajak keuntungan penjualan properti seperti yang umum ditemukan di banyak negara Eropa lainnya. Sebagai gantinya, terdapat biaya transaksi sebesar 12 persen dari harga jual, bahkan dapat turun menjadi 5 persen apabila penjual memenuhi syarat tertentu, misalnya bukan pelaku bisnis properti dan menjual rumah dalam ketentuan yang berlaku.

4. Ada negara yang memberi keringanan lewat aturan pajaknya

ilustrasi perumahan, properti, German, Eropa
ilustrasi perumahan, properti, German, Eropa (unsplash.com/Jahanzeb Ahsan)

Gak semua negara dengan sistem pajak properti memiliki aturan yang memberatkan. Jerman, misalnya, memberikan keuntungan bagi pemilik yang bersabar. Jika kamu memiliki properti selama lebih dari 10 tahun sebelum menjualnya, seluruh keuntungan dari penjualan dapat dibebaskan dari pajak sehingga hasil investasimu bisa dinikmati sepenuhnya.

Selain itu, Estonia dan Republik Ceko juga menarik perhatian karena gak mengenakan transfer tax saat pembelian properti. Sementara itu, Lithuania hanya membebankan biaya akuisisi sekitar 0,4 persen dari nilai transaksi. Jika rumah yang dibeli seharga 500.000 euro, biaya tersebut hanya sekitar 2.000 euro atau sekitar Rp38 juta, jauh lebih rendah dibandingkan Belgia yang bisa mencapai lebih dari Rp1 miliar.

5. Jangan hanya melihat harga rumah sebelum membeli

Negara Eropa dengan Pajak Properti Paling Mahal dan Murah
ilustrasi rumah di Jerman (pexels.com/Lucian Cornea 🇩🇪)

Harga rumah memang menjadi pertimbangan utama saat membeli properti di luar negeri. Namun, biaya yang harus kamu keluarkan setelah transaksi selesai juga tidak kalah penting. Pajak tahunan, pajak pendapatan sewa, hingga pajak keuntungan penjualan dapat memengaruhi total biaya kepemilikan dan besarnya keuntungan investasi dalam jangka panjang.

Perbedaan aturan di setiap negara menunjukkan bahwa sistem pajak properti di Eropa masih sangat beragam. Sebuah apartemen di Belgia bisa menghasilkan beban pajak yang jauh lebih besar dibandingkan rumah dengan harga serupa di Siprus atau Malta. Karena itu, memahami seluruh jenis pajak sebelum membeli akan membantumu membuat keputusan investasi yang lebih cermat dan menghindari biaya tak terduga di kemudian hari.

Membeli properti di Eropa bukan hanya soal menemukan rumah dengan harga terbaik, tapi juga memahami seluruh biaya yang menyertainya. Belgia dan Denmark menjadi contoh negara dengan beban pajak properti yang relatif tinggi, sementara Siprus, Malta, Estonia, hingga Lithuania menawarkan aturan yang lebih ringan bagi pemilik properti.

Jika kamu berencana berinvestasi di pasar properti Eropa, jangan hanya membandingkan harga rumah, ya, tapi hitung juga seluruh kewajiban pajaknya. Dengan begitu, kamu bisa memilih negara yang paling sesuai dengan tujuan investasi dan kondisi keuanganmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.