JAKARTA, KOMPAS.com - Terdakwa kasus dugaan manipulasi informasi elektronik, Khariq Anhar, menjelaskan alasan di balik pembuatan unggahan meme "timpa teks" yang kini menyeretnya ke meja hijau.
Khariq mengaku editan tersebut awalnya dibuat secara spontan sebagai bentuk kekecewaan terhadap Presiden Partai Buruh, Said Iqbal.
Khariq mengaku kecewa lantaran Said Iqbal saat itu mengeluarkan pernyataan yang melarang elemen pelajar dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) untuk bergabung dalam aksi demonstrasi pada 28 Agustus 2025 silam.
"Waktu itu saya lagi di Bandung sebenarnya. Lalu ada kawan dari Partai Buruh yang tinggal di Pancoran itu ngehubungin. Dia kan tahu saya itu megang akun yang cukup besar, jadi saya diundang tuh. Nah itu saya datanglah, ikut untuk meliput sebagai media dengan akun saya (@aliansimahasiswapenggugat)," kata Khariq saat dihubungi Kompas.com melalui panggilan telepon, Rabu (15/7/2026) malam.
Namun, menjelang keberangkatannya, ia menerima kiriman tangkapan layar berita dari rekannya tersebut yang berisi pernyataan Said Iqbal mengenai aksi 28 Agustus hanya boleh diikuti buruh dan melarang mahasiswa ikut turun ke jalan.
"Waktu itu saya kecewa saja, karena kebetulan di hari itu saya pengin jumpa Pak Said Iqbal sebenarnya. Pengin ngobrol lah, karena bagi saya Partai Buruh khususnya itu yang mewakili kelas buruh seharusnya. Jadi saya kecewa, lalu saya pikir seharusnya Pak Said Iqbal lebih merangkullah mahasiswa dan pelajar. Makanya saya timpa teks itu," ungkapnya.
Ingin Sampaikan Pendapat ke Said Iqbal
Khariq mengatakan, semula ia ingin menyampaikan kekecewaannya secara langsung kepada Said Iqbal. Namun, kesempatan itu tak pernah datang.
Ia kemudian memilih menyampaikan kritik melalui meme dengan menyunting judul berita menggunakan blok hitam tebal atau metode yang dikenal di media sosial sebagai "timpa teks".
Ia bahkan sengaja menandai (tag) akun media sosial Said Iqbal secara langsung di kolom penjelasan atau caption unggahan.
"Aku kasih disclaimer tuh, ditandai di kolom caption-nya gitu dan aku tag Pak Said Iqbal. Jadi harapannya ini memang tertujunya ke Pak Said Iqbal nih. Jadi sebenarnya udah ada pikiran kalau dilaporin pun, ya kuharap yang laporin Pak Said Iqbal gitu kan. Atau pun kalau ada masalah ya Pak Said Iqbalnya nih, karena pengin di-notice juga gitu lho kalau saya ini mahasiswa," jelas Khariq.
Menurut dia, unggahan sindiran itu ternyata tidak memicu amarah di kalangan buruh.
Sebaliknya, teman-teman Khariq dari Partai Buruh justru menganggapnya sebagai lelucon belaka. Namun, Khariq tetap gagal bertemu Said Iqbal karena setelah aksi selesai, Said langsung meninggalkan lokasi.
Bertemu di Penjara
Khariq menyebut unggahan "timpa teks" miliknya berhasil mendapatkan ratusan ribu interaksi dan likes di Instagram.
Namun, sehari setelah demonstrasi, tepatnya pada 29 Agustus 2025, ia ditangkap polisi saat hendak pulang ke Riau melalui Bandara Soekarno-Hatta.
Saat itu, Khariq didakwa dalam perkara dugaan penghasutan dan ujaran kebencian terkait aksi demonstrasi Agustus 2025 melalui unggahan ajakan aksi di akun Instagram yang dikelolanya.
Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.